Alasan Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab

Pertanyaan : 

Mengapa Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab..? sehingga membuat bangsa yang bukan Arab kesulitan untuk memahami ajaran Islam. 

Jawaban : 

Untuk pertanyaan ini, Al-Qur'an sendiri yang menjawabnya : 

Dan jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?" Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: "Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh". (Fusilat: 44) 

Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Quran dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga, dan segolongan masuk Jahannam. (Ash-Shura: 7)

Proses penyebaran ajaran Islam memang telah ditetapkan Allah melalui Rasul yang diutus dari bangsa Arab, dimulai dengan penyampaian ajaran melalui mereka, untuk selanjutnya disebarkan kepada wilayah disekitar yang bukan berasal dari bangsa Arab. Tidak benar dikatakan karena Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab, maka kaum selain Arab kesulitan untuk memahami ajaran Islam. Pemahaman tentang ajaran Islam didapatkan melalui ulama-ulama yang menguasai ajaran tersebut, lalu mengajarkannya dalam bahasa masing-masing kepada umat. 

Faktanya banyak dari para ulama tersebut menguasai bahasa Arab melebihi orang Arab sendiri.

Islam bukan bersumber dari budaya Arab

Pertanyaan : 

Apakah Islam bersumber dari budaya Arab..? 

Jawaban : 

Islam justru datang untuk merubah budaya Arab yang ada pada waktu itu. Sebelum datangnya Islam, bangsa Arab punya budaya yang sangat berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah. Sistem kekerabatan (ukhuwah) berdasarkan kesukuan/kabilah yang melandasi semua perilaku bangsa Arab dibidang politik, ekonomi, sosial, peperangan, dll telah dihapus oleh Islam dan diganti menjadi sistem kekerabatan berdasarkan iman. Nilai-nilai moral dan susila seperti judi, mabuk, hubungan seksual, aurat, yang selama ini dipakai telah berubah secara total menjadi nilai moralitas Islam, demikian juga pranata sosial seperti lembaga perkawinan, posisi kaum perempuan, hak waris, sangat berbeda dengan budaya Arab sebelumnya. Termasuk juga sistem perdagangan yang mengharamkan riba, pengangkatan pemimpin umat, juga berbeda jauh dengan sistem yang ada sebelumnya. 

Cara melihat apakah ada pengaruh budaya Arab terhadap Islam adalah dengan melihat bentuk dan corak masyarakat Arab sebelum dan sesudah Islam datang, faktanya menunjukkan perbedaan yang sangat bertolak-belakang.

Alasan adanya nasikh-mansukh

Pertanyaan : 

Mengapa Islam mengajarkan bahwa firman Allah ada yang dirubah, dihapus, diganti oleh Allah (nasikh-mansukh)..? Apakah Allah tidak konsisten dalam menyampaikan firman-Nya..? 

Jawaban : 

Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? (al-Baqarah 106) 

Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu). Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh). (ar-Ra'd 38-39) 

Perubahan, penghapusan, penggantian risalah bagi setiap umat dalam kitab suci merupakan keputusan Allah melalui utusan yang telah ditetapkan-Nya, karena terkait dengan ruang-lingkup ajaran, kondisi umat dan kemampuan mereka dalam menjalankan risalah Tuhan tersebut. Ajaran Taurat dan Injil ditujukan untuk kaum Bani Israil, maka ketika Al-Qur'an diturunkan kepada seluruh umat manusia sebagai kelanjutannya, beberapa syari'at dirobah.

Ketika ajaran Islam diturunkan melalui proses selama 23 tahun, ada syari'at yang ditetapkan dengan cara berangsur-angsur sesuai kemampuan masyarakat Makkah dalam menjalankannya. 

Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari'at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari'at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus. (Al-Hajj: 67) 

Allah yang menetapkan ajaran-Nya yang harus dijalankan manusia, dan Allah juga memiliki wewenang untuk merubah dan menggantinya. Nasikh-mansukh berakhir pada masa kerasulan Muhammad SAW karena setelah itu Allah menetapkan tidak ada lagi nabi dan rasul yang diutus.

Taurat dan Injil tidak dipelihara oleh Allah

Pertanyaan : 

Mengapa Al-Qur'an menyebutkan bahwa hanya Al-Qur'an saja yang dipelihara oleh Allah sedangkan Taurat dan Injil yang diturunkan sebelumnya tidak dinyatakan dilindunginya dari pemalsuan..? Apakah Allah tidak mampu untuk menjaga firman-firman-Nya terdahulu..? 

Jawaban : 

Soal ini semata-mata menjadi keputusan Allah, Dia sendiri yang memutuskan mana kitab suci yang akan dipelihara dan dilindungi dan mana yang ditetapkan bisa diubah-ubah oleh manusia. 

Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu. (Yunus: 19)   

Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (Al-Baqarah: 213) 

Risalah Allah yang diturunkan kepada para nabi terdahulu, lalu umat mereka ada yang membangkang dan merubah risalah tersebut, kemudian diutus lagi nabi dan rasul untuk membenarkan ajaran para pendahulu tersebut, agar penyimpangan yang dilakukan dikembalikan lagi kepada jalan yang lurus. 

Ketetapan Allah untuk menjamin Al-Qur'an sampai akhir jaman merupakan tindakan logis karena setelah nabi Muhammad SAW Dia tidak lagi mengirim utusan.

Dalam keadaan terpaksa, babi tetap haram

Pertanyaan : 

Berdasarkan surat al-Baqarah 173, an-Nahl 115 dan al-An'aam 145, apakah dalam keadaan terpaksa, daging babi yang sebelumnya telah diharamkan menjadi halal..?? 

Jawaban : 

Pengharaman terhadap daging babi tetap berlaku sampai akhir jaman. Kebolehan memakan babi dalam keadaan terpaksa bukan berarti sifatnya yang haram menjadi halal, tapi Allah menyatakan mengampuni dosa orang-orang yang memakan babi karena kondisi keterpaksaan, sekalipun dia telah memakan makanan yang diharamkan Allah. 

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Baqarah: 173) 

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An-Nahl: 115) 

Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi -- karena sesungguhnya semua itu kotor -- atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (Al-An'aam: 145)