Dalam keadaan terpaksa, babi tetap haram

Pertanyaan : 

Berdasarkan surat al-Baqarah 173, an-Nahl 115 dan al-An'aam 145, apakah dalam keadaan terpaksa, daging babi yang sebelumnya telah diharamkan menjadi halal..?? 

Jawaban : 

Pengharaman terhadap daging babi tetap berlaku sampai akhir jaman. Kebolehan memakan babi dalam keadaan terpaksa bukan berarti sifatnya yang haram menjadi halal, tapi Allah menyatakan mengampuni dosa orang-orang yang memakan babi karena kondisi keterpaksaan, sekalipun dia telah memakan makanan yang diharamkan Allah. 

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Baqarah: 173) 

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An-Nahl: 115) 

Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi -- karena sesungguhnya semua itu kotor -- atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (Al-An'aam: 145)