Persoalan nabi Muhammad meninggal karena diracun

Pertanyaan : 

Berdasarkan hadits Bukhari dalam versi bahasa Inggeris ini : Narrated 'Aisha: The Prophet in his ailment in which he died, used to say, "O 'Aisha! I still feel the pain caused by the food I ate at Khaibar, and at this time, I feel as if my aorta is being cut from that poison." (Bukhari Volume 5, Book 59, Number 713), apakah benar nabi Muhammad meninggal dunia akibat memakan kambing yang telah dikasih racun oleh seorang wanita Yahudi waktu di Khaibar..? 

Jawaban : 

Hadits yang meriwayatkan adanya usaha musuh Islam untuk meracuni Rasulullah memang dicatat oleh banyak hadits shahih, salah satunya : 

Sunan Darimi 68: 
Telah mengabarkan kepada kami Al Hakam bin Nafi' telah mengabarkan kepada kami Syu'aib bin Abu Hamzah dari Az Zuhri ia berkata; Jabir bin Abdullah Radliyallahu'anhu menceritakan; Seorang wanita Yahudi penduduk Khaibar membubuhi racun pada daging kambing panggang dan menghadiahkannya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Nabi mengambil daging tulang hastanya dan memakannya, dan sebagian sahabatnya juga ikut makan bersamanya. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kontan berkata kepada mereka: " Angkatlah tangan kalian." Kemudian beliau mengutus seseorang untuk menangkap wanita Yahudi tadi dan menginterogasi: "Kamu melumuri kambing tadi dengan racun?" Ia menjawab; "Ya, benar. " Si wanita bertanya; "Siapa gerangan yang memberitahukan kepada baginda?" Nabi menjawab: "Yang memberitahuku adalah yang ada di tanganku ini, " -maksudnya tulang sampil--Perempuan itu berkata, "Betul, memang kububuhi racun, " beliau bertanya, " Apa maksudmu melakukan hal itu?" ia menjawab, "Aku hanya ingin membuktikan, jika seorang Nabi niscaya tidak mencelakainya dan jikalau bukan, kami terbebas darinya. " Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memaafkannya dengan tidak menghukumnya, sedang sebagian sahabat lain yang memakan daging kambing tersebut meninggal dunia. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berbekam pada bagian atas punggung untuk menghilangkan racun yang dimakannya dari daging kambing tersebut. Beliau dibekam oleh Abu Hind, maula Bani Bayadhah, dengan tanduk dan parang, ia dari Bani Tsumamah yaitu daerah bagian dari kaum Anshar. " 

Kisah ini juga diriwayatkan oleh banyak hadits lain seperti : Musnad Ahmad 4207, Shahih Muslim 4060, Shahih Bukhari 5332, 2955, Sunan Abu Daud 3909, 3911, 3912, Musnah Ahmad 12808, Shahih Bukhari 2424. (Semua hadits tersebut bisa ditemukan pada website Lidwa) 

Hadits Muslim tentang Yahudi dan Nasrani sebagai penebus dosa seorang Mukmin

Pertanyaan

Berdasarkan hadits ini : Hadist Sahih Muslim 4969, Kitab 50 - Bab 1319 : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kpada kami Abu Usamah dari Thalhah bin Yahya dari Abu Burdah dari Abu Musa dia berkata: "Rasulullah saw telah bersabda: 'Pada hari kiamat kelak, Allah Swt akan menyerahkan seorang Yahudi ataupun seorang Nasrani kepada setiap orang Muslim. Kemudian Allah Swt akan berkata: 'Inilah penebusmu dari siksa api neraka.'

Apakah dalam Islam juga mengenal konsep penebusan dosa..? 

Jawaban

Supaya penjelasan lebih lengkap, disampaikan hadits pembandingnya : 

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: Di hari kiamat kelak, sekelompok dari kaum muslimin akan datang membawa dosa mereka sebesar gunung. Lalu Allah mengampuni dosa-dosanya, kemudian dibebankan-Nya kepada orang-orang Yahudi dan nasrani. (Itu menurut perkiraanku). Rauh berkata; 'aku tidak tahu dari siapa keraguan ini.' Abu Burdah berkata; Maka hal ini aku ceritakan kepada Umar bin Abdul Aziz. Lalu dia bertanya; 'Apakah Bapakmu menceritakan hal ini dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam? aku menjawab; 'Ya.' (HR Muslim 4971) 

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Tidaklah seorang muslim meninggal kecuali Allah akan memasukkan (memperlihatkan) ke dalam tempatnya neraka Yahudi atau Nashrani." (HR Muslim 4970) 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "TIDAKLAH SEORANG MUKMIN MENINGGAL KECUALI ALLAH 'AZZA WAJALLA AKAN MENGGANTIKAN TEMPATNYA DI NERAKA DENGAN ORANG YAHUDI DAN NASRANI." (HR Ahmad 18666) 

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Tidaklah seorang muslim meninggal dunia, kecuali Allah 'azza wajalla akan menggantingan tempatnya di neraka dengan seorang Yahudi atau Nasrani." (HR Ahmad 18739) 

Dari semua hadits tersebut kita bisa membuat kesimpulan apa yang dimaksud dengan istilah 'penebus' dosa tersebut : 

1. Adalah dosa-dosa seorang Muslim yang diampuni Allah lalu dipindahkan kepada Yahudi dan Nasrani yang kafir. 
2. Muslim diperlihatkan neraka yang seharusnya menjadi tempatnya karena telah berdosa namun tempat tersebut diganti oleh Yahudi dan Nasrani. 

Ini terkait dengan ayat Al-Qur'an : 

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (Al-Mukminuun 1)...Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (Al-Mukminuun 10-11) 

Kata 'waaritsuuna' dan 'yaritsuun' terambil dari akar kata 'waw-ra-tsa', maknanya berkisar pada 'peralihan sesuatu kepada sesuatu yang lain'. Ada yang memahami ayat tersebut dalam arti, orang mukmin yang sudah memenuhi syarat akan mewarisi, yakni akan dialihkan kepada mereka surga yang tadinya Allah persiapkan untuk semua manusia. Tetapi karena ada diantara mereka yang kafir maka mereka tidak berhak memperolehnya. Dengan demikian surga yang Allah siapkan buat orang-orang kafir tersebut diwarisi oleh seorang mukmin, beralih kepemilikannya. (Tafsir al-Mishbah buku 9 hal 162) 

Jadi konsep surga dan neraka dalam ajaran Islam : semua manusia sudah dipersiapkan oleh Allah tempatnya di neraka dan di surga, tidak peduli apakah dia seorang muslim atau bukan. Sebagai sebagai muslim sudah ada 'kapling' di surga dan di neraka, orang kafir juga sudah ada kaplingannya di surga dan di neraka. Apakah nanti seorang hamba Allah akhirnya masuk ke surga atau neraka yang sudah disiapkan tersebut tergantung kepada pilihannya di dunia, apakah mau jadi kafir atau beriman, apakah menjadi orang baik atau tidak, semuanya ada hitung-hitungannya. 

Ketika seorang kafir masuk neraka, maka kaplingannya di surga menjadi kosong dan tidak bertuan, itulah kemudian yang diwariskan kepada seorang mukmin, sebaliknya ketika seorang mukmin masuk surga artinya tempatnya yang sudah disediakan di neraka menjadi tidak terpakai, itulah yang diambil oleh kafir. 

Jadi selain seorang penghuni surga memperoleh jatahnya, dia juga mendapat warisan dari jatah orang kafir yang tidak dipergunakan. Makanya ayat Al-Qur'an yang lain menyatakan : 

Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga. (Ar-Rahmaan: 46) 

Sebaliknya buat kafir akan mengalami siksa neraka yang berlipat-ganda, selain menerima 'jatah'nya, si kafir juga mewarisi jatah neraka yang 'tidak dimanfaatkan' oleh seorang muslim : 

Allah berfirman: "Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk kawannya (menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu: "Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka". Allah berfirman: "Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui". (Al-A'raaf: 38)

Menjawab Kontradiksi surat An-Nisaa 3 dan 129 tentang Keadilan dalam berpoligami

Pertanyaan :

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil,maka (kawinilah) seorang saja atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (An-Nisaa 3)

Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An-Nisaa 129)

Bukankah kedua ayat tersebut bertentangan..? bahwa syarat untuk berpoligami haruslah adil, padahal pada ayat lain Allah menyatakan tidak ada manusia yang bisa berlaku adil. Lalu buat apa menyatakan kebolehan terhadap sesuatu yang tidak mungkin bisa dilaksanakan oleh manusia..?

Pengertian istilah Al-Qur'an : Allah melakukan tipu-daya

Pertanyaan : 

Apakah Islam mengajarkan bahwa Allah melakukan tipu daya..? berdasarkan ayat ini : 

Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Ali-Imran: 54) 

Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya. (Al-Anfaal: 30) 

Jawaban : 

Kata 'tipu-daya' berasal dari kata aslinya 'makar' yang tersusun dari huruf 'mim-kaf-ra' dengan pengertian : To practice deceit or guile or circumvention, practice evasion or elusion, to plot, to excercise art or craft or cunning, act with policy, practice strategem, atau dalam bahasa Indonesia : taktik, startegi, siasat. Merupakan tindakan yang bersifat netral, bisa positif dan juga negatif. 

Dalam penyebutan kata 'makar' yang dilakukan Allah, kata tersebut disandingkan dengan kata 'khayru-khoyru' yang berarti : sebaik-baiknya. Dalam kaedah bahasa Arab, kata 'khayru-khoyru' tidak bisa disandingkan dengan suatu perbuatan yang bersifat negatif, tetapi hanya bisa disandingkan dengan kata yang berkonotasi netral atau positif. Tidak ada kita temukan misalnya istilah bahasa Arab : 'khayru jaahiliin' = sebaik-baiknya kebodohan, atau 'khayru kaafiriin' = sebaik-baiknya orang kafir. 

Pengertian ayat Al-Qur'an tentang Semua manusia masuk neraka..

Pertanyaan : 

Apakah Islam mengajarkan bahwa kelak di akherat semua manusia akan masuk neraka..? setelah itu baru akan diselamatkan Allah agar tidak disiksa disana..? berdasarkan ayat ini : 

Dan kemudian Kami sungguh lebih mengetahui orang-orang yang seharusnya dimasukkan ke dalam neraka. Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. (Maryam 70-72) 

Jawaban : 

Dalam bahasa aslinya kata 'mendatangi' berasal dari kata 'waaridu' yang terbentuk dari susunan huruf 'waw-ra-dal' yang bermakna : to be present, arrive at (any water to drink), go down into, draw near to (a place). Al-Qur'an memakai kata ini dalam beberapa ayat lain, misalnya : 

Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya. (Al-Anbiya 98) 

Kata 'kamu pasti masuk kedalamnya' - antum lahaa waariduuna, memang diartikan : masuk dan menjalani siksaan di neraka. 

Penganiayaan dan pemerkosaan TKW dan perbudakan.

Pertanyaan : 

Apakah penganiayaan dan pemerkosaan yang dilakukan orang-orang di negara Arab terhadap TKW terjadi karena pengaruh ajaran perbudakan dalam Islam..? 

Jawaban : 

Semua ayat Al-Qur'an yang menyinggung soal budak selalu berkonotasi baik : harus memperlakukan budak dengan baik, tidak boleh menzinahi budak, menikah dengan budak, membayar kafarat (denda karena telah melakukan pelanggaran terhadap aturan agama) dengan cara membebaskan budak, sebagai pihak yang berhak menerima zakat. Contoh beberapa ayatnya : 

Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. (An-Nuur 33) 

Dan barangsiapa diantara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, ia boleh mengawini wanita yang beriman, dari budak-budak yang kamu miliki. Allah mengetahui keimananmu; (An-Nisaa 25) 

Apa Bahayanya Mengkafirkan Seseorang?

Pertanyaan: Bagaimana hukumnya jika seorang Muslim beranggapan bahwa orang muslim lainnya (saudara sesama Muslim) itu adalah kafir?

Jawab:

Setiap orang yang berikrar dan mengucapkan Syahadat telah dianggap Muslim. Hidup (jiwa) dan hartanya terlindung. Dalam hal ini tidak diharuskan (tidak perlu) meneliti batinnya.

Menghukumi (menganggap) seseorang bahwa dia kafir, hukumnya amat berbahaya dan akibat yang akan ditimbulkannya lebih berbahaya lagi,

Siapakah Yang Layak Disebut Kafir?

Pertanyaan:

Siapakah sebenarnya yang layak dihukumi (disebut) kafir?

Jawab:

Yang layak disebut kafir ialah orang yang dengan terang-terangan tanpa malu menentang dan memusuhi agama Islam, menganggap dirinya kafir dan bangga akan perbuatannya yang terkutuk.

Bukan orang-orang Islam yang tetap mengakui agamanya secara lahir, walaupun dalamnya buruk dan imannya lemah, tidak konsisten antara perbuatan dan ucapannya. Orang itu dalam Islam dinamakan "munafik" hukumnya.

Di dunia dia tetap dinamakan (termasuk) orang Islam, tetapi di akhirat tempatnya di neraka pada tingkat yang terbawah.

Apa Yang Menyebabkan KeIslaman Seseorang Menjadi Batal?

Pertanyaan:


Apa yang menyebabkan Islam seseorang menjadi batal?

Jawab:

Setiap manusia, apabila telah mengucapkan dua kalimat Syahadat, maka dia menjadi orang Islam. Baginya wajib dan berlaku hukum-hukum Islam, yaitu beriman akan keadilan dan kesucian Islam. Wajib baginya menyerah dan mengamalkan hukum Islam yang jelas, yang ditetapkan oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Tidak ada pilihan baginya menerima atau meninggalkan sebagian. Dia harus menyerah pada semua hukum yang dihalalkan dan yang diharamkan, sebagaimana arti (maksud) dari ayat di bawah ini:

"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mukmin dan tidak (pula) bagi wanita yang Mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka ..." (Q.s. Al-Ahzab: 36) .

Apa Syarat Utama Masuk Islam?

Pertanyaan:

Apa syarat utama bagi orang yang baru masuk Islam?

Jawab:

Syarat utama bagi orang yang baru masuk Islam ialah mengucapkan dua kalimat Syahadat. Yaitu, "Asyhadu allaa ilaaha ilallaah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasuulullah." Barangsiapa yang mengucapkan dan mengikrarkan dengan lisannya, maka dia menjadi orang Islam. Dan berlaku baginya hukum-hukum Islam, walaupun dalam hatinya dia mengingkari. Karena kita diperintahkan untuk memberlakukan secara lahirnya. Adapun batinnya, kita serahkan kepada Allah. Dalil dari hal itu adalah ketika Nabi saw. menerima orang-orang yang hendak masuk Islam, beliau hanya mewajibkan mereka mengucapkan dua kalimat Syahadat. Nabi saw. tidak menunggu hingga datangnya waktu salat atau bulan Puasa (Ramadhan).

Tuhan yang lain pada QS 70 (Al-Maarij) : 40



Pertanyaan : 

Maka Aku bersumpah dengan Tuhan Yang memiliki timur dan barat, sesungguhnya Kami benar-benar Maha Kuasa. (Al-Ma'aarij: 40) 

Mengapa Allah bersumpah dengan Tuhan yang lain pada ayat tersebut, apakah ini tidak bertentangan dengan konsep tauhid Islam yang menyatakan Allah itu Esa..? 

Jawaban : 

Al-Qur'an menyatakan bahwa satu-satunya Tuhan yang memiliki timur dan barat hanyalah Allah : 

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah: 115) 

Maka kalimat tersebut artinya adalah Allah bersumpah dengan diri-Nya sendiri. 

Kalau yang dipermasalahkan redaksi kalimat yang menyebut 'Aku bersumpah dengan Tuhan' sebagai dasar tuduhan adanya Tuhan yang lain, maka pertanyaannya adalah :"Apakah gaya bahasa seperti itu tidak lumrah atau tidak boleh dipakai dalam kitab suci..?" Sesuatu menyatakan dirinya dengan memakai kata ganti pihak ketiga..? 

Gaya bahasa yang sama juga terdapat pada alkitab : 

Yohanes 5:19 Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. 

Atau juga perkataan Yesus terhadap Nikodemus ini : 

Yohanes 3:13-18 Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia. Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. 

Tidak seorang Kristen-pun menyatakan karena Yesus memakai kata ganti pihak ketiga dalam ucapannya lalu menafsirkan 'dia', anak manusia, anak-Nya yang tunggal, -Nya, adalah bukan Yesus. 

Gaya bahasa yang persis sama juga terdapat dalam ayat alkitab ini : 

Keluaran 24:1 Berfirmanlah Ia kepada Musa: "Naiklah menghadap TUHAN, engkau dan Harun, Nadab dan Abihu dan tujuh puluh orang dari para tua-tua Israel dan sujudlah kamu menyembah dari jauh.

Surat Maryam 19 tentang Isa Almasih tidak pernah berdosa

Pertanyaan : 

Apakah ayat : Ia (jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci". (Surat Maryam 19) menunjukkan pengakuan Islam bahwa Yesus adalah manusia yang bersih dari dosa..? 

Jawaban : 

Pengertian ‘anak laki-laki yang suci’ sebenarnya bisa dilihat dari membaca ayat tersebut secara keseluruhan : 

Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata: "Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa". Ia (jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci". Maryam berkata: "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!" (Maryam 16-20) 

Pengertian tersebut terkait dengan dugaan Maryam dan juga persangkaan yang akan muncul dari kaum Yahudi yang menuduh Maryam telah berzina dan melahirkan anak haram, maka sebutan ‘anak laki-laki yang suci’ bukan berarti Yesus bersih dari dosa seumur hidupnya karena itu menunjukkan dia adalah Tuhan yang juga bersih dari dosa. Sebutan malaikat untuk meyakinkan Maryam bahwa anak yang akan dia lahirkan tanpa berhubungan dengan laki-laki bukanlah merupakan anak haram. 

Dalam konsep Islam, semua manusia terlahir suci : 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (Shahih Bukhari) 

Kalau ada pertanyaan lanjutan :”Apakah Al-Qur’an atau hadits pernah menyatakan Isa Almasih melakukan dosa selama hidupnya..? maka jawabannya :”Tidak ada, namun Al-Qur’an dan hadits juga tidak menyebut beberapa nabi lain melakukan dosa seperti Ibrahim, Ismail, Ishak, Ilyas, Ilyasa’, Yaqub, dll, dan itu bukan berarti mereka bersih dari dosa lalu dinyatakan sama dengan Tuhan. 

Alasan Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab

Pertanyaan : 

Mengapa Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab..? sehingga membuat bangsa yang bukan Arab kesulitan untuk memahami ajaran Islam. 

Jawaban : 

Untuk pertanyaan ini, Al-Qur'an sendiri yang menjawabnya : 

Dan jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?" Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: "Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh". (Fusilat: 44) 

Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Quran dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga, dan segolongan masuk Jahannam. (Ash-Shura: 7)

Proses penyebaran ajaran Islam memang telah ditetapkan Allah melalui Rasul yang diutus dari bangsa Arab, dimulai dengan penyampaian ajaran melalui mereka, untuk selanjutnya disebarkan kepada wilayah disekitar yang bukan berasal dari bangsa Arab. Tidak benar dikatakan karena Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab, maka kaum selain Arab kesulitan untuk memahami ajaran Islam. Pemahaman tentang ajaran Islam didapatkan melalui ulama-ulama yang menguasai ajaran tersebut, lalu mengajarkannya dalam bahasa masing-masing kepada umat. 

Faktanya banyak dari para ulama tersebut menguasai bahasa Arab melebihi orang Arab sendiri.

Islam bukan bersumber dari budaya Arab

Pertanyaan : 

Apakah Islam bersumber dari budaya Arab..? 

Jawaban : 

Islam justru datang untuk merubah budaya Arab yang ada pada waktu itu. Sebelum datangnya Islam, bangsa Arab punya budaya yang sangat berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah. Sistem kekerabatan (ukhuwah) berdasarkan kesukuan/kabilah yang melandasi semua perilaku bangsa Arab dibidang politik, ekonomi, sosial, peperangan, dll telah dihapus oleh Islam dan diganti menjadi sistem kekerabatan berdasarkan iman. Nilai-nilai moral dan susila seperti judi, mabuk, hubungan seksual, aurat, yang selama ini dipakai telah berubah secara total menjadi nilai moralitas Islam, demikian juga pranata sosial seperti lembaga perkawinan, posisi kaum perempuan, hak waris, sangat berbeda dengan budaya Arab sebelumnya. Termasuk juga sistem perdagangan yang mengharamkan riba, pengangkatan pemimpin umat, juga berbeda jauh dengan sistem yang ada sebelumnya. 

Cara melihat apakah ada pengaruh budaya Arab terhadap Islam adalah dengan melihat bentuk dan corak masyarakat Arab sebelum dan sesudah Islam datang, faktanya menunjukkan perbedaan yang sangat bertolak-belakang.